MENGGELIAT BERKAT KRIPIK TEMPE

SINGODUTAN—Dusun Karangtengah, Desa Singodutan, Selogiri, berpotensi menjadi sentra pembuatan makanan khas Wonogiri, yakni keripik tempe kedelai. Sebanyak 12 keluarga di dusun setempat menggeluti usaha tersebut sejak 2005 dan bertahan hingga sekarang. Usaha itu mampu meningkatkan ekonomi para perajin.

Produk mereka dibuat dari bahan yang bersih dan aman. Meski telah bertahun-tahun dijalankan, perkembangan usaha mereka lambat. Kondisi itu terjadi karena minimnya sumber daya manusia (SDM), terkendala pemasaran, dan permodalan. Pemerintah Desa Singodutan melalui badan usaha milik desa (BUM desa) saat ini sedang merancang tempat promosi sekaligus penjualan oleh-oleh Wonogiri dengan memanfaatkan akses jalan masuk dan keluar Kabupaten Wonogiri. Selain itu memanfaatkan tempat strategis dekat Terminal Giri Adipura. Pihak desa akan menampung produksi keripik tempe untuk dipasarkan di tempat tersebut.

Salah satu perajin, Mulyono, 50, saat ditemui di rumahnya di Karangtengah RT 002/RW 002, Minggu (20/5), mengatakan dirinya merupakan generasi kedua sebagai perajin keripik tempe. Dia menjalankan usaha dibantu istrinya, Suratmi. Dia dapat memproduksi 230 bungkus ukuran kecil dari bahan 8 kg-10 kg/hari. Hingga saat ini dia hanya dapat menjual di pasar lokal di Selogiri dan Kecamatan Wonogiri melalui warung-warung kelontong. Mulyono juga melayani pembelian di rumahnya.

Keripik tempe buatannya dipasarkan dalam dua pilihan, yakni kemasan kecil dan mika bulat. Keripik tempe kemasan kecil dijual seharga Rp2.000/bungkus, sedangkan kemasan mika bulat seharga Rp16.000/pack untuk bakul. Ramadan ini Mulyono menaikkan harga karena harga bahan baku juga naik. Kemasan kecil dijual Rp2.500/bungkus, sedangkan kemasan mika bulat seharga Rp18.000/pack.

“Hasil jualan lumayan bisa untuk memenuhi kebutuhan sehar-hari. Kalau dihitung laba bersih setidaknya saya dapat Rp60.000/hari-Rp100.000/hari,” kata Mulyono.

Perajin keripik tempe lainnya di Karangtengah RT 003/RW 002, Dedy, 53, menyampaikan setiap Ramadan meningkatkan kapasitas produksi. Pada hari normal dia hanya memproduksi 10 kg-14 kg/hari. Saat Ramadaan produksi mencapai 18 kg/hari. Produksi semakin meningkat saat mendekati Lebaran. Usahanya dirintis istrinya, Sri Suratmi, 50, yang sebelumnya bekerja sebagai pembungkus tempe di tempat usaha pembuatan keripik tempe milik tetangganya. Saat itu upahnya hanya Rp10.000/hari. Setelah mengetahui cara membuat keripik tempe, Sri Suratmi memutuskan membuka usaha sendiri bersama Dedy pada 2005 dan kian berkembang seiring berjalannya waktu. Saat ini keduanya bisa meraup laba bersih Rp1,5 juta-Rp2 juta/bulan.

“Wilayah pemasaran hasil produksi saya di Kecamatan Wonogiri, Selogiri, Nguter [Sukoharjo], dan Solo,” kata Dedy.

 

 

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan